ORANG SUSAH DILARANG CEREWET

4:39 AM Add Comment
STRATEGI MENJUAL RUMAH MURAH



Dulu rumah luasan kecil type 21 atau 36 disebut sebagai RSS (rumah sangat sederhana). Perkembangan berikutnya dikoreksi menjadi RSH (rumah sederhana). Tapi akibat AMPHAS (asosiasi masyarakat pemilik hunian sempit) melakukan komplain dan minta diberi sebutan yang lebih manusiawi, sekarang pemerintah menyebutnya dengan istilah RST (rumah sejahtera tapak).

Mau diberi sebutan apapun dan sebagus apapun, substansinya tetap saja rumahnya berukuran sempit, kalau bukan T-21 ya T-36. Mau didesain arsitek lulusan UNDIP atau STM tidak tamat, tetap saja munculnya bangunan 1 kamar atau 2 kamar, dengan penempatan KM/WC dibelakang kamar atau diapit 2 kamar. Tak bisa lebih dari itu.

Saya pernah mengembangkan perumahan sederhana di Karawang, Purwakarta, Bogor, Jepara, Sukabumi, dan saat ini di Rajeg Tangerang. Bahkan yang di Dermaga Bogor luasnya 19 ha dengan jumlah rumah 1113 unit. Jadi kalau saat ini ingin berbagi pengalaman soal memasarkan dan membangun RST, ya semoga saja ada yang mau dengar, karena pengalaman empiris saya soal ini lumayan mencukupi.

Sobat properti, jika anda membangun RST, maka jurus yang paling manjur dan bisa diandalkan adalah COST LEADERSHIP, yaitu menjual rumah dengan harga lebih murah dibanding harga kompetitor, akan tetapi dengan level benefit yang sama.
Misal ; pesaing menjual T-36/72 seharga Rp 88 juta, maka jika anda menjual type yang sama seharga Rp 85 juta, maka itu adalah sebuah competitive advantage yang mampu membuat konsumen berpaling ke produk anda. Konsumen di segmen ini sangat 'sensitif' terhadap isue harga. Beda harga sedikit saja mampu membuat mereka memilih produk anda.

Membandingkan harga produk tentunya harus dengan level benefit yang sama. Jangan sampai anda mengklaim harga jual lebih murah dengan spec dinding batako, sementara pesaing memakai bata merah. Jika sama-sama bata merah tetapi harga produk anda lebih murah, barulah itu bisa disebut produk anda memiliki keunggulan kompetitif.

Jika saya meyakini bahwa harga jual yang murah adalah jurus paling jitu memasarkan RST, maka di artikel ini sekalian saya ingin berbagi kepada anda tentang bagaimana mereduksi harga bangunan agar lebih hemat dan efisien.

Paradigma penting yang harus dipakai adalah "Jangan memakai kacamata anda untuk melihat produk RST". Konsumen RST tidak berada di level yang sama dengan anda. Mereka hanya berada di zona NEED (kebutuhan), bukan WANT (keinginan) apalagi EXPECTATION (harapan). Mereka kelompok konsumen yang asal punya rumah sudah bersyukur, karena bisa berteduh dari hujan dan terhindar dari panas terik matahari. Bukan seperti anda yang lihat acian tembok kasar sedikit sudah ngomel-ngomel. Mereka kelompok konsumen yang melihat warna cat memudar di bulan ke 6 tenang-tenang saja. Tak seperti anda yang cerewet soal hal ini dan langsung komplain ke pengembangnya melihat warna cat nya sudah memudar.

Kelompok konsumen RSH tak banyak menuntut. Mereka sadar bahwa orang susah seperti mereka tak boleh cerewet, hahaha ... Isinya hanyalah bersyukur dan bersyukur, bahwa dibalik kesusahan mereka, ada pihak yang membantu mengupayakan mereka memiliki sebuah rumah.

Sobat properti, meski tak pernah memiliki sertifikat profesi dari IAI (Ikatan Arsitek Indonesia), saya adalah sarjana arsitektur lulusan Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang. Saya mendesain sebuah rumah kelas RST yang biaya konstruksinya sangat murah. Tahun 2013, saya mengerjakan bangunan ini dengan harga borongan Rp 1.000.000/m2 di Jepara. Dan awal 2014 mengerjakan bangunan ini dengan harga borongan Rp 1.100.000/m2 di Sukabumi.

Filosofinya ada 2 hal pokok ;

A. Hindari Pemakaian Atap Genting


Genting adalah jenis material penutup atap yang berat. Sehingga konstruksinyapun mahal, harus ada gording, kasau dan reng. Saat ini banyak yang memilih cara praktis dengan memakai rangka atap baja ringan. Tetap saja biayanya mahal, karena penutup atapnya berupa genting yang terbuat dari material beton. Meski kita memilih kualitas genting beton yang rendah, harganya tetaplah mahal.

B. Hindari Bidang Dinding Yang Terlalu Banyak Tekukan

Setiap tekukan dinding akan membawa konsekwensi terjadinya penambahan kolom praktis, dan yang namanya kolom pasti mengandung unsur besi dan beton, yang membuat biaya konstruksi menjadi bengkak. Jika dalam bidang dinding selebar 6 m tanpa ada tekukan, mungkin hanya diperlukan 3 kolom struktur saja. Tapi jika ada tekukan, bisa-bisa harus menambah 1 atau 2 kolom praktis. Jika setiap kolom praktis setinggi 325 cm mengandung besi dan beton, hitung saja berapa pembengkakan biaya yang timbul.

SOLUSI dan APLIKASI


Buatlah desain tampak bangunan yang tidak memakai penutup atap berbahan genting. Tampak depan cukup bidang dinding saja yang diolah dengan sedikit aksentuasi penebalan dan permainan warna cat saja. Atap dibuat 1 kemiringan ke belakang, jangan model pelana yang memakai bubungan. Pakai atap galvalum alias spandek yang ringan dan murah rangka konstruksinya. Tak perlu pakai kuda-kuda apalagi rangka atap baja. Hanya gording beberapa batang berupa baja canal C yang melintang dengan bertumpu di gunungan dinding (lihat gambar). Ini membuat biaya konstruksi menjadi lebih murah.



Kekurangan dari pemilihan material atap spandek atau galvalum ini adalah jika terjadi hujan lebat, maka suaranya bakal pletok-pletok keras sekali. Tapi sekeras-kerasnya bunyi hujan menimpa atap. Yang penting air hujannya tidak bocor masuk ke kamar. Namanya saja rumah murah, pasti penghuninya (maaf) orang susah. Dan aturan mainnya adalah bahwa orang susah dilarang cerewet apalagi komplain. Kondisi yang ada harus diterima dan disyukuri. Punya rumah tidak bocor saja seharusnya disyukuri.

Denah dibuat kotak tanpa banyak tekukan. Jika kita mendesain type 36, buat saja bangunan 6 x 6. Jika membuat type 21, buat saja 6 x 3,5. Rumah murah dindingnya harus 1/2 bata alias dinding kongsi. Jadi 1 dinding dipakai bersama untuk kanan dan kiri. Ada resiko suara tetangga bakal terdengar dan tembus. Tapi namanya orang susah dengan rumah type kecil aturannya adalah dilarang cerewet apalagi komplain. Kondisi yang ada harus diterima dan disyukuri, hahhaa ..


note : artikel ini belum tuntas, nanti akan diunggah contoh denah dan juga potongannya

RAYUAN WTS ASAL SURABAYA

11:13 PM Add Comment
SUSI, WTS YANG TERJUN KE BISNIS PROPERTI


Di sebuah sore yang teduh karena habis turun hujan gerimis, ada telepon masuk dari seorang wanita yang suaranya mendesah manja.

"Hallo pak AW, apa kabar? Masih ingat saya? Saya Susi, WTS yang pernah ikut workshop pak AW di Surabaya dulu. Semoga pak AW sehat-sehat selalu ..."

"Apa??? WTS???" Saya kaget mendengar pengakuannya. 

"Hihihi .... Iya, pak AW, saya Susi murid pak AW. Benar saya memang WTS alias Wanita Teknik Sipil asal Surabaya, yang benar-benar punya obsesi jadi pengusaha properti. Sejak ikut workshop pak AW, disela-sela kesibukan saya sebagai karyawan di perusahaan kontraktor saya sering hunting tanah disana-sini, dan alhamdullilah ini sudah ada hot deal ....", kata Susi.

Hahahahaha ....., saya sampai berdegup kencang jantungnya karena ditelpon seorang WTS, eh ternyata kepanjangan dari Wanita Teknik Sipil. Artinya dia itu Sarjana Teknik jurusan Teknik Sipil. Saya lupa-lupa ingat Susi yang mana, karena memang saya adakan workshop CARA GAMPANG JADI PENGEMBANG sudah puluhan kali di berbagai kota, dan total akumulasi pesertanya (muridnya) mungkin sudah melebihi jumlah 1000 orang. Jadi kalau soal nama tak mungkin ingat, tapi kalau ketemu muka, setidaknya saya masih ingat.

Kemudian Susi bercerita bahwa apa yang pernah saya jelaskan di workshop hampir benar semua di lapangan, terutama dalam usahanya mencari lahan hot deal. Ada kisaran 50 lahan di 50 lokasi yang sudah dia survei, sudah ketemu dan negosiasi dengan pemiliknya, dan baru kali ini mendekati deal. Yang lain-lain susah deal karena hampir semuanya minta dibeli, bukan dikerjasamakan.

"Gila nih pak AW, setelah hunting selama 1 tahun, baru kali ini saya bisa deal meski baru secara secara lisan. Dan saya sudah terapkan semua jurus-jurus dari pak AW, yaitu soal menentukan harga tanah, menentukan komposisi pembagian laba (profit sharing), serta membatasi modal yang kita keluarkan. Semua jurus yang saya pelajari di workshop sudah saya keluarkan. Dan senang banget yang ini sudah deal ....."

Susi menjelaskan kalau dia deal untuk lahan seluas 8200 m2 di pinggiran kota Surabaya, harga lahan Rp. 450.000/m2, dengan DP 20% dibayar saat IPT atau Ijin Lokasi sudah terbit dan lahan siap dibalik nama. Sisanya pengakuan hutang yang dibayar mulai bulan ke 12 s/d ke 18. Untuk konsep kerjasama ini, pemilik tanah mendapat bagian laba 20%.

"Pak AW, dengan posisi saya yang sudah deal lisan seperti ini, dan lahan siap untuk dieksekusi, lantas apa yang harus saya lakukan? Urutannya seperti apa? Skenario legalnya seperti apa? Mohon arahan dan bimbingannya .... Pak AW ini suhu saya, jadi kalau muridnya bertanya, harus dijawab ya ...."

Hahaha, kagak tahan mendengar rayuan WTS asal Surabaya ini. Dan sayapun dengan cepat dan sigap berjanji akan membantu Susi untuk menyusun SKENARIO LEGAL nya, yang saya jelaskan bahwa semua harus diawali dengan membuat SURAT KESEPAKATAN BERSAMA. Jika SKB sudah ditanda-tangani, maka opportunity sudah ditangan. Tinggal dibuatkan BUSSINES PLAN nya guna mencari pemodal.   

Saya berjanji akan mengirimkan ke Susi draft SKB yang dimaksudkan, tapi dalam versi blanko. Biar nanti Susi merevisi sendiri sesuai dengan data-data lahan yang dimaksudkan. Tak lupa saya berikan semangat dan motivasi agar dia bisa sukses melakukan eksekusi proyek pertamanya tersebut. Jika butuh bantuan mencarikan pemodal, saya bisa bantu jika memang labanya cukup menarik.

Dan inilah draft SKB yang telah saya emailkan ke Susi ...

Catatan : foto di artikel ini bukan foto Susi yang sebenarnya, karena saya tidak punya foto Susi. Itu fotonya cari di google, semoga yang punya foto marah dan mencari saya. Asyiik bisa kenalan ..




PRODUK PROPERTI DENGAN KONSEP "SEMUA JADI DUIT"

9:28 PM Add Comment
APLIKASI SIMBOL PRAMUKA 
DALAM BISNIS PROPERTI



Ada yang pernah jadi pramuka semasa bersekolah dulu? Pasti anda tahu apa lambang pramuka, yaitu TUNAS KELAPA. Kata kakak pembina, tunas kelapa adalah filosofi buah kelapa yang semua bagiannya memiliki fungsi dan manfaat, tak ada yang dibuang. Istilah gaulnya: "SEMUA JADI DUIT".

Akarnya bisa dijadikan benda seni. 
Batangnya (glugu) bisa dijadikan balok untuk konstruksi.
Daunnya bisa untuk membuat ketupat.
Sabutnya (kulit buah) bisa untuk mencuci piring.
Batoknya bisa buat souvenir dan benda seni.
Buahnya bisa dimakan.
Airnya bisa diminum untuk mengganti ion tubuh.

Mantap ya, dari bawah sampai atas tak ada yang sia-sia, semua bisa dijadikan duit karena memiliki manfaat dan nilai ekonomi.

Sobat properti, saya juga mengembangkan sebuah produk properti yang semua ruangnya bisa jadi duit alias menghasilkan income. Produk ini saya beri nama KOKOSTEL (toKO dan KOST ala hotEL).Definisi "semua jadi duit" adalah bahwa produk properti yang saya pasarkan ini benar-benar produktif, karena fungsi yang kita aplikasikan disitu semuanya bisa menghasilkan pemasukan. Jadi fungsi ruangnya bisa dijual karena memiliki value secara ekonomis.

Lihat dulu denahnya dibawah ini :





LANTAI I

Di bagian depan kita buat fungsi ruang semacam toko, yang bisa dimanfaatkan sebagai ruang usaha untuk membuka unit bisnis yang berkaitan dengan anak kost, misal; laundry, mini cafe, warung indomie dan bubur kacang ijo, toko celluler, dll. Jadi nanti pengelolanya tinggal menanamkan investasi sedikit lagi di toko ini, supaya bisa menjadi sumber income yang lumayan.

Di bagian belakangnya (masih di lantai 1), semuanya berisi kamar kost dengan KM/WC didalam yang nantinya bisa disewa-sewakan sebagai kost harian atau bulanan kepada mahasiswa atau kepada wisatawan. Mengingat fungsinya sebagai rumah kost, tentu saja jangan lupa membuat ruang-ruang pendukung seperti ruang tamu dan ruang tunggu, ruang pengelola, dapur/pantry, dan gudang. 

LANTAI II

Semuanya berisi kamar kost yang nanti bisa disewa-sewakan. Akses keatas melalui tangga, bukan lift karena hanya bangunan 2 lantai. Selasar dibuat cukup lebar untuk kenyamanan sirkulasi. Tentu saja secara arsitektural mesti memperhitungkan soal penghawaaan (ventilasi udara) dan pencahayaan yang cukup, supaya yang menghuni merasa nyaman.

Sobat properti, di Yogyakarta saya sudah memasarkan 52 unit produk properti produktif seperti ini dengan jumlah kamar 256 yang tersebar di 4 titik lokasi strategis. Konsepnya adalah kita memerankan 2 peran, yaitu A sebagai PENGEMBANG, dan B sebagai PENGELOLA.

Peran pengembang kita jalankan dengan kewajiban menyerahkan bangunan sesuai luasan dan spesifikasi material yang telah ditentukan, lengkap dengan perabot (full furnished) kepada konsumen. Dalam konteks ini, kita tentu saja menikmati laba sebagai pengembang yang telah menjual tanah dan bangunan.

Peran B kita lakukan sebagai pengelola, dimana toko serta kamar kost yang sudah menjadi milik konsumen, kemudian kita minta hak pengelolaannya dengan sistem jaminan sewa bulanan ataupun bagi hasil 80:20, tergantung konsumen memilih skim yang mana. Keuntungan kita adalah seolah memiliki sekian banyak kamar kost meskipun bukan kita pemiliknya. Jika dikelola dengan baik, itu adalah revenue yang menggiurkan.

Berdasarkan pengalaman saya menjual sekian banyak produk properti produktif, maka kata kuncinya adalah; "Kewajiban mengangsur bulanan ke bank harus mampu dibayar dari potensi income bulanan." Jika rumus tersebut mampu dipenuhi, niscaya anda lebih mudah mendapatkan konsumen. Dan untuk menjual produk seperti ini, konsumen anda bukan hanya yang secara geografis tinggal di kota dimana produk itu anda pasarkan. Tapi konsumen luar kota sekalipun berpeluang menjadi pembeli anda, karena mereka adalah investor, bukan end user. 

Meski produk saya di Yogya, tapi saya saat promosi berani melakukan gathering dari kota ke kota, yaitu; Jakarta, Bandung, Surabaya, Purwokerto dll. Jangan heran jika konsumen saya ada yang berasal dari Bengkulu, Makasar, Surabaya, Purwokerto, Semarang, Jakarta, dll. Mereka tak perlu menghuni propertinya di Yogya, yang penting investasi yang mereka tanam menghasilkan duit setiap bulan. Pokoke duit, pokoke duit, sambil goyang ala Soimah dan Cesar. Saya sebagai pengelola yang bekerja tiap bulan, mereka sebagai konsumen tinggal menunggu setoran saja tiap bulannya.

Ini ilustrasi ketika saya menjual produk rumah kost 5 kamar type 114 m2 di Yogyakarta, dengan kondisi sudah full furnished :




HARGA JUAL     :  Rp. 860.000.000
UANG MUKA      :  Rp. 360.000.000
---------------------------------------------   -
PLAFOND KPR  :  Rp. 500.000.000

ANGSURAN KPR (asumsi 15 tahun, bunga 10,5%)
= Rp. 5.568.600,-/Bulan

Jika konsumen memiliki kewajiban mengangsur ke bank senilai Rp. 5,6 jutaan perbulan, maka anda harus berani memberikan jaminan sewa senilai minimal Rp. 6 juta/bulan kepada konsumen, supaya dia mampu membayar angsuran bulanan ke bank.

Apakah saya berani memberi jaminan sewa senilai Rp. 6 juta/bulan?

Sewa 5 kamar x Rp. 1.750.000/bln = Rp. 8.750.000/bln
Biaya operasional (20%) = Rp. 1.750.000/bln
-----------------------------------------------------------
Sisa pendapatan (80%) = Rp. 7.000.000/bln

Sedikit tips, jika anda ingin menyewakan kamar kost dengan tarif tinggi, maka labelnya adalah KOST EKSEKUTIF, dan kriteria kost eksekutif ditandai dengan tersedianya parking area dalam kapasitas memadai. Tanpa ketersediaan parkir mobil, maka sebagus apapun kamar anda, tak bisa disewakan tinggi karena yang masuk adalah kelas sepeda motor. Tentu saja selain parkir memadai, fasilitas standar seperti KM/WC didalam, TV, AC, air panas juga harus tersedia.

Jika anda punya potensi pendapatan Rp. 7 juta/bln, dan hanya memiliki kewajiban Rp. 6 juta/bulan, berarti sisanya ada Rp. 1 juta/bulan. Lumayan bukan? Punya income 1 juta/bulan hanya dari pengelolaan 1 unit rumah kost 5 kamar. Jika anda mengelola 50 rumah kost, maka hasilnya sebulan bisa mencapai Rp. 50 juta. Ruarrrr biasaaaaa ...

Dapat duit Rp. 50 juta perbulan dari bisnis sampingan (karena bisnis utama tetap sebagai pengembang properti) bisa membikin kita menyanyi "Pokoke Joget, Pokokee Jogett ...." sepanjang hari.

Berani mencoba???

Oh ya, kalau penasaran dengan peran saya sebagai PENGELOLA, anda bisa melihat website www.NginapHemat.com 

KEREN !!! SAMSOENG MERILIS GADGET TANPA BATERAI

4:14 AM Add Comment
PRICING STRATEGY


Bukan rahasia lagi bahwa bagi para pengguna gadget, urusan baterai adalah sesuatu yang menjengkelkan. Baterai-baterai yang beredar di pasaran sekarang dan satu paket dengan gadget yang dijual seringkali tak punya daya tahan yang cukup untuk digunakan. Hanya bisa bertahan kisaran 6 - 10 jam saat masih baru, dan kisaran 2 - 4 jam jika baterainya sudah ratusan kali di-charge.

Banyak pengguna gadget yang berharap pabrikan seperti Samsoeng mengoptimalkan divisi research dan development-nya guna menemukan teknologi baterai yang durasinya bisa mencapai 24 jam atau bahkan lebih.

Samsoeng menjawab kerinduan itu bukan dengan merilis teknologi baterai berdurasi panjang, tetapi justru memberikan kabar istimewa dengan merilis penjualan gadget tanpa baterai. Hebatnya lagi, semua produknya akan diberlakukan penjualan gadget tanpa baterai ini.

Misalnya untuk Samsoeng Galaxy Mega yang biasanya dijual seharga Rp 4.150.000, saat ini dijual seharga Rp 3.800.000 tanpa baterai. Samsoeng Galaxy Core yang semula dijual seharga Rp 2.550.000, saat ini dijual Rp 2.225.000 tanpa baterai. Dengan penjualan tanpa baterai ini, tentu saja gadget baru yang dibeli belum bisa dipergunakan sebelum dilengkapi dengan baterai yang dijual terpisah.

Samsoeng menjualnya secara terpisah, dimana baterai untuk type Mega dijual seharga Rp 350.000 dan baterai untuk type Core dijual seharga Rp 325.000.

Saya menduga bakal banyak konsumen yang merasa kecewa dengan kebijakan menjual gadget tanpa baterai ini, karena hakekatnya adalah sama saja. Malah lebih menguntungkan dijual blended dalam 1 paket karena tak perlu repot-repot membeli secara terpisah.

Hehehe... itu hanya humor. Semoga pabrikan Samsung tidak melaporkan saya untuk kasus pencemaran nama baik, karena yang saya kisahkan diatas adalah Samsoeng, bukan Samsung.

Sobat properti, seseorang bertanya kepada saya; Mana lebih baik mencantumkan harga jual tanpa PPN di pricelist supaya terkesan murah, atau langsung menambahkan PPN didalam pricelist dengan konsekwensi terkesan mahal.

Saya jawab bahwa lebih baik PPN dicantumkan sekalian, karena konsumen manapun tahu bahwa pembelian properti memang menjadi obyek PPN. Mau tidak dicantumkan toh nyatanya juga mesti dibayar oleh konsumen.

Tak perlu kuatir itu akan terlalu membebani konsumen, karena pihak bank bersedia membiayai 80% x (harga + PPN). Artinya PPN diblended jadi satu dengan harga. Catatan; 70% untuk type 70 keatas.

Dalam jual beli properti, konsumen yang akan membeli secara kredit harus membayar 4 hal sebagai berikut;

a. Membayar Uang Muka (20 atau 30% x harga jual)
b. Membayar PPN =10% x harga jual
c. Membayar BPHTB = 5% x (harga jual - 60 juta)
d. Biaya KPR (provisi, administrasi, bea notaris, bea pengikatan, APHT, asuransi jiwa kredit dll)

Banyak konsumen yang tidak paham dan terjebak dengan item b + c + d seperti rincian diatas. Akibatnya ketika aplikasi kredit sudah disetujui, terkadang mereka tak mampu menyediakan alokasi biaya untuk membayar item b + c + d diatas. Mereka pikir, hanya cukup membayar UM saja.

Jadi saran saya, lakukan PRICING STRATEGY (strategi menetukan harga jual) dengan memasukkan PPN kedalam harga jual langsung. Itu wajib dilakukan. Bahkan tak jarang saya juga memasukkan BPHTB kedalam komponen harga, sehingga dalam pricelist yang dirilis keluar, semua sudah blended jadi satu. Dan nanti saat promosi kita bisa beriklan dengan selling point "BEBAS BPHTB".

Kalau untuk biaya KPR, sulit memasukkannya karena terlalu banyak variabel dan tidak fix nilainya. Apalagi untuk sub item asuransi jiwa kredit, terkadang nilai preminya besar sekali jika debiturnya sudah berusia tua.

Kesimpulannya, anda bisa pakai kombinasi (a + b) atau (a + b + c) didalam pricelist. Tapi kalau untuk kombinasi (a + b + c + d) saya tidak menyarankannya (not recommended).

CONTOH PERHITUNGAN

Harga Jual = Rp 100.000.000
PPN 10% = Rp 10.000.000
Harga Jual + PPN = Rp 110.000.000

Harga Jual = Rp 100.000.000
BPHTB = 5% x (Rp. 100.000.000 - Rp. 60.000.000) = Rp 2.000.000
PPN 10% = Rp 10.000.000
Harga Jual + PPN + BPHTB = Rp 112.000.000

APA KRITERIA HOT PROSPEK DI BENAK SALES ANDA?

3:54 AM Add Comment
ESTEBAN VIZCARRA DITAWARKAN 400 JUTA 
KE PSIS SEMARANG


Sekitar tahun 2009 yang lalu, disaat saya masih menjabat sebagai GM PSIS Semarang di kompetisi ISL, suatu ketika saya mengadakan gathering dengan beberapa agen pemain. Saya mengundang mereka ke acara dinner di Citos (Cilandak Town Square) Jakarta. Misi saya adalah berburu pemain asing, yang kebetulan sedang kami butuhkan untuk melanjutkan kompetisi di putaran kedua.

Dalam acara gathering tersebut, ada seorang agen pemain yang menyampaikan informasi kepada saya, bahwa dia baru saja mendatangkan gelandang serang asal Argentina bernama ESTEBAN VIZCARRA. Dia menjelaskan bahwa Vizcarra adalah gelandang muda, energik dan punya naluri mencetak gol layaknya seorang striker.

Vizcarra belum pernah bermain di klub Indonesia. Dan oleh agennya dia akan ditawarkan ke klub Pelita Jaya dan Persija Jakarta. Sang agen berkata ke saya, jika berani membikin deal untuk mengkontrak 400 juta malam itu juga, maka dia persilahkan saya membawa Vizcarra ke Semarang. Tentu saja saya menolak, karena tak mau membeli kucing dalam karung. Pelatih PSIS pasti ingin melihat dulu aksi Vizcarra di lapangan sebelum memutuskan untuk mengontrak atau dipulangkan.

Sang agen mengatakan siap mengirim Vizcarra untuk diuji di Semarang, dengan jadwal setelah Vizcarra mengikuti test di klub Pelita Jaya dan klub Persija terlebih dahulu. Tak lupa sang agen menambahkan, jika harus mengirim Vizcarra ke Semarang, maka penawaran 400 juta tidak berlaku lagi, melainkan akan dilakukan negosiasi lanjutan.

Kisah lanjutannya, Vizcarra saat test ujicoba di klub Pelita Jaya ternyata berhasil memikat hati pelatih Fandi Ahmad dan Manager Rahim Sukasah, dan dikontrak dengan harga 800 juta. Mantap!! Nilainya 2x dari angka yang pernah disodorkan ke saya. Vizcarra tak perlu melakukan test ke klub lainnya, karena dia berhasil mendapatkan klub yang mau menggunakan jasanya sebagai gelandang serang.

Setelah 2 musim bermain di Pelita Jaya, yang saya dengar Vizcarra berpindah ke klub Semen Padang FC dan berhasil mengantar SPFC menjuarai kompetisi IPL, serta melaju ke babak perempat final Piala AFC. Luar biasa, saya akui Vizcarra memang pemain bagus untuk ukuran liga di Indonesia.

Sobat properti, kenapa saya tak mau mengontrak pemain sebagus Esteban Vizcarra dengan harga 400 juta, padahal akhirnya klub Pelita Jaya berani mengontraknya di angka 800 juta? Jawabnya adalah karena saya belum pernah melihat aksi Vizcarra di lapangan. Saya cuma bertemu Vizcarra di meja makan. Saya cuma tahu Vizcarra berpostur ideal dan berwajah lumayan ganteng. Tak mungkin saya mengontrak seorang pemain hanya karena lihat posturnya yang atletis dan wajahnya yang ganteng.

Sobat properti, saya punya sales yang setiap kali ditanya apakah dia memiliki hot prospek yang berpotensi terjadi closing? Dia selalu menjawab ada. Kemudian dia menyebutkan nama prospeknya, menyebutkan asalnya, dan juga type yang diminati.

Ketika saya tanya apakah si prospek sudah pernah survei lokasi? Dijawab belum pernah. Langsung saya katakan bahwa tak ada konsumen yang closing sebelum konsumen survei dulu melihat lokasi. Sebagus apapun brosur kita, semurah apapun harga produk kita, konsumen akan mengambil keputusan setelah melihat lokasi.

Sales tersebut membela diri dengan mengatakan bahwa prospeknya sangat serius, karena sudah telpon-telponan lama sekali dan bertanya banyak hal. Bahkan sudah berencana memberikan order pekerjaan tambah dengan membuat taman di belakang rumah. Saya kembali katakan bahwa mau telpon 15 menit atau bahkan 1 jam bukanlah indikasi bahwa si konsumen mau closing.

Tugas anda cuma 1 hal, yaitu membujuk konsumen datang ke lokasi. Oke?? Lakukanlah hal itu, supaya konsumen segera mengambil keputusan. Karena hanya dengan bermodal brosur atau penawaran melalui email, terkadang visualisasi di benak konsumen belum tentu sama dengan fakta riil di lapangan. Kriteria apakah konsumen tersebut masuk kategori HOT PROSPEK yang siap closing atau prospek biasa saja yang masih butuh waktu melakukan pertimbangan, baru diketahui setelah konsumen survei lokasi.



Selang beberapa hari, si sales yang super optimis tersebut kembali datang melapor kepada saya, bahwa konsumennya sudah datang dari Semarang untuk survei lokasi yang diminatinya di Yogya. Dan setelah lihat sendiri ke lapangan, konsumen belum percaya atau belum berani membayar tanda jadi. Ada 2 alasan, yaitu; progres di lapangan masih sangat rendah (memang lahan tersebut baru selesai pekerjaan penimbunan, belum ada progres infrastruktur lainnya), dan lokasinya tak seperti yang dia bayangkan (di brosur kelihatan dekat dari ring road, tapi nyatanya lokasi di KM 9 ternyata lumayan jauh pencapaiannya). Meskipun demikian konsumen mengaku suka dengan lingkungannya yang tenang dan sejuk, serta aksesnya melewati aspal mulus.

Nah, apa kata saya?? Jangan terlalu mudah memberi label HOT PROSPEK kepada seorang konsumen sebelum konsumen pernah melakukan survei lokasi. Semua informasi awal mengenai product knowledge dan benefit memang menjadi kewajiban seorang sales untuk mentransfernya kepada konsumen. Tapi jangan lupa mengarahkan konsumen untuk survei lokasi, karena setelah tahapan itulah kita baru tahu seberapa besar peluang yang sesungguhnya.

Meski laporannya tidak membuat saya happy, tapi saya berpesan kepada sales untuk tetap menyimpan data prospek, supaya 2-3 bulan mendatang ketika progres fisik di lapangan sudah cukup layak, konsumen yang tadi bisa diajak lagi berkunjung ke lokasi. Siapa tahu nanti 'feel' nya sudah kena dan konsumen bersedia merogoh kocek untuk membayar tanda jadi.

Tak banyak konsumen yang berani membayar tanda jadi ketika anda hanya bermodal brosur (jangan cerita soal Ciputra, itu bukan level anda), apalagi bagi pengembang baru yang belum memiliki kredibilitas serta reputasi yang cukup. Jalan satu-satunya, kebut progres fisik di lapangan (jalan, saluran, taman, rumah contoh dll). supaya secara visual dapat dinikmati oleh konsumen. Cause visual speak louder.

CALEG GILA, BERJANJI MEMBERIKAN 35 JUTA KEPADA SETIAP PEMILIHNYA

2:32 AM Add Comment
BERIKLAN DENGAN THEMA 
YANG UP TO DATE

Selipan Iklan :
Mau cari penginapan murah di YOGYA?
Ke GODHA INN saja, hanya Rp. 125.000/malam
Reservasi ke 0274 - 7453 777 / www.NginapHemat.com



Pilih saya, maka anda akan mendapatkan hadiah CCTV gratis dan BPHTB gratis (estimasi senilai Rp. 35 juta), juga undian door prize berhadiah 1 unit mobil. Itu bunyi iklannya, tapi tampilan iklan display berukuran 1 x 50 mmk di harian Kedaulatan Rakyat Yogya tersebut benar-benar mirip seorang caleg yang lagi kampanye. Dan keduanya memang CALEG (CALO LEGAL) dari Godha Properti yang sedang memasarkan berbagai produk yang dipasarkan oleh GODHA PROPERTI, yaitu berupa hunian (4 lokasi KAMPOENG GAJAH), guest house, ruko, dan kokostel.

Sobat properti, di bulan dan tahun politik seperti saat ini (artikel ini ditulis 14 Maret 2014), foto para caleg hadir dimana-mana. Di pojokan jalan, ditepi jalan, di kaca mobil angkot, di koran, di televisi, di selebaran dan lain-lain. Semuanya bersiap menyongsong Pemilu Legislatif tanggal 9 April 2014 mendatang. 

Memanfaatkan suasana politik saat ini, maka saya dengan sengaja membuat iklan yang didesain dengan kemasan ala Caleg yang sedang berkampanye. Ada pose caleg (calo legal) bergaya, ada logo proyek (seolah logo partai), ada slogan "Pilih Saya". Saya pasang iklan display ini di koran, dan saya bermaksud menjebak para pembacanya. Mereka pasti mengira itu iklan kampanye, tapi setelah dipelototi ternyata iklan properti. Mungkin ini iklan gila, yang penting konten yang ada terdelivery dengan baik ke konsumen meski dengan sedikit jebakan batman.

Beriklan dengan thema yang up to date sangat saya sarankan. Karena pilhan thema yang up to date mudah menarik perhatian. carilah momentum yang pas, cari issue terpanas saat itu, dan mendomplenglah kepada momentum yang ada. Pastinya membutuhkan ide dan kreativitas tingkat tinggi, supaya ada benang merah antara konten iklan dengan kemasannya. Kalau soal beginian, saya lumayan ahli, hehe ... Iklan-iklan karya saya penuh jebakan dan membuat pembaca penasaran.

Apalagi di era social media seperti saat ini, dimana anda bisa membuat materi iklan di website atau blog, membuat short link nya, dan disebar-luaskan melalui broadcast. Beri judul yang bombastis fantastis, misal "CALEG GILA, BERJANJI MEMBERIKAN 35 JUTA KEPADA SETIAP PEMILIHNYA." Sebarkan di facebook, twitter, broadcast blackberry dan lain-lain. Cari korban sebanyak-banyaknya yang terjebak membaca iklan anda. Makin banyak korban makin baik. Semoga sales anda panen prospek, semoga telepon pemasaran berdering-dering, semoga banyak calon konsumen meminta informasi mengenai produk anda.

Berani mencoba???

INGIN JADI DIREKTUR PERUSAHAAN PROPERTI TANPA MODAL?

9:33 PM Add Comment

SAYA PILOTNYA, ANDA CO-PILOTNYA

MARI TERBANGKAN PESAWAT INI SAMPAI KE TUJUAN



Seorang pembaca blog menghubungi saya dan bertanya kepada saya;

“Mas AW, saya baca artikel anda yang menyebutkan bahwa mas AW tak mau ditawari tanah, tetapi lebih suka ditawari OPPORTUNITY. Dan disitu juga disebutkan bahwa jika saya membawa opportunity maka saya akan diberikan good will yang nilainya lebih dari sekedar fee perantara. Mohon pencerahannya soal ini ....”

Yeeesssss!!! Betul sekali. Saya menghargai seseorang yang membawa opportunity, yaitu mendapatkan deal tanah dengan skim bayar yang lunak (baca artikel; Pengusaha Properti Harus Bisa Negosiasi). Karena hanya dengan jalan inilah maka saya bisa membantu seseorang yang (maaf) tidak punya tanah dan tidak punya modal melimpah, untuk bisa menjadi pengusaha properti. Kata kuncinya adalah ‘dapatkan deal bagus’ dengan pemilik tanah. Istilah kerennya ‘HOT DEAL”.

Meski sudah berkali-kali saya jelaskan di artikel sebelumnya, tapi saya tak akan bosan untuk mengulangnya. Ini panduan skim lunak yang anda harus negoisasikan dengan pemilik tanah, yaitu ;
  1. Uang muka maksimal 20% (duapuluh persen) dari harga tanah, dibayarkan saat PPJB notariil.  Kemudian meminta grace period untuk melakukan pengurusan perijinan sampai dengan terbit Ijin Lokasi/Ijin Prinsip dari Pemda setempat. Ketika ijin sudah terbit (estimasi 2 s/d 4 bulan), maka hitungan waktu baru berlaku.
  2. Tanah kemudian dilakukan balik nama ke PT, dimana pihak PT menanda-tangani pengakuan hutang kepada pemilik  sebesar 80% x harga .
  3. Menyepakati batas waktu pelunasan, dengan asumsi 1 tahun mampu memasarkan 1 ha tanah (hitungan dimulai diluar grace period)
  4. Pembayaran  selanjutnya sesuai dengan progres penjualan, dengan realisasi pembayaran saat sudah dilakukan AJB PPAT dengan konsumen. (Pembayaran dilakukan dengan memperhitungkan nilai hutang  terhadap luasan tanah efektif yang bisa dijual. Lihat contoh perhitungan)
         Misal :
         Luas Tanah = 10.000 m2, harga Rp. 400.000/m2
         Nilai Tanah = Rp. 4.000.000.000
         Uang Muka 20% = Rp. 800.000.000
         Hutang Tanah = Rp. 3.200.000.000

         Luas Tanah (brutto) = 10.000 m2
         Luas Tanah (netto) = 60% x 10.000 m2 = 6.000 m2
         Pembayaran Tanah per 1 m2
         = Rp. 3.200.000.000 / 6.000 m2
         = Rp.    533.333/m2

Oh ya, kondisi diatas kita memperlakukan seolah kita jual beli bersyarat dengan pemilik tanah, yaitu bayar DP 20% dan sisanya dibayar sampai dengan jangka waktu tertentu. Kalau pemilik tanah alot dan susah diajak deal dengan skim tanpa bagi laba, keluarkan jurus kedua, yaitu membagikan laba alias menjanjikan profit sharing. Saya biasa memulai di angka 15% meski sebenarnya masih berani melepas sampai dengan maksimal profit sharing 30% kepada pemilik tanah.

Nah, kembali ke topik, yaitu berapa good will yang bisa saya janjikan kepada pembawa opportunity. Saya memiliki 2 opsi sebagai berikut ......

Notasi :
MPT = Mitra Pemilik Tanah
MPM = Mitra Pemilik Modal
MPK 1 = Mitra Pemilik Keahlian 1 (Ari Wibowo)
MPK 2 = Mitra Pemilik Keahlian 2 (pembawa opportunity)

PEMILIK TANAH TANPA PROFIT SHARING

MPM = 70%
MPK 1 = 15%
MPK 2 = 15%

PEMILIK TANAH MENDAPAT PROFIT SHARING

MPT = 30%
MPM = 50%
MPK 1 = 10%
MPK  2 = 10%

Jika bagian MPT tak mencapai 30%, maka selisihnya bisa didistribusikan ke MPM dan MPK.

Kenapa ada MPK 1 dan MPK 2? Karena dalam konteks ini, pihak yang membawa peluang adalah MPK 2, yaitu mendatangkan lahan dengan cara bayar lunak. Peluang inilah yang memiliki VALUE untuk dikonversi menjadi goodwill. Kalau hanya menunjukkan ada tanah dijual tapi harus bayar cash, maaf tak ada value apapun, kecuali fee perantara saja. Dan saat ini saya hanya berminat membeli lahan cash untuk area Yogya Sleman dan Semarang saja.

Sementara saya sebagai MPK 1 memainkan peran untuk mendatangkan MPM yang bersedia memodali proyek ini. Saya akan buatkan perencanaan (siteplan, desain arsitektur), Business Plan, Action Plan, yang itu semua menjadi bahan negosiasi dengan MPM. Jadi saya memainkan peran disini. Jika sebuah proyek sudah ada Action Plan-nya, maka nanti untuk pelaksanaannya tinggal mengacu ke Action Plan ini. Saya yang bertanggung-jawab untuk mendapatkan MPM. Jika sebuah proyek saya nyatakan bagus dan saya berani ambil, pasti ada keyakinan saya untuk mendatangkan pemodal. MPM bisa dari pihak ketiga, bisa dari perusahaan saya, bisa juga saya pribadi ikut secara proporsional.

Jika lahannya kecil (maksimal 5 kavling) dan dikelola dalam skenario perorangan, maka saya (MPK 1) akan bertindak sebagai Project Manager, dan MPK 2 akan saya tempatkan sebagai Deputy Project Manager. Ibarat mengemudikan sebuah pesawat, maka saya menjadi pilot dan pembawa opportunity (MPK 2) akan bertindak sebagai co-pilot. Kita berdua yang akan menerbangkan pesawat (baca; proyek ini) agar mendarat selamat sampai ke tujuan.

Jika lahannya besar dan mewajibkan menempuh skenario PT, maka MPK 2 akan ditempatkan menjadi salah satu Direksi di PT baru yang akan didirikan guna mengerjakan proyek ini. Mantap bukan? Hanya dengan modal mendatangkan peluang, anda akan duduk menjadi direktur sebuah perusahaan properti. Proyeknya riil, modalnya disediakan oleh MPM, dan anda akan bekerja menjalankan proyek tersebut dengan mentoring langsung dari saya selaku MPK 1. Anda dapat gaji bulanan, dan bertugas mengerjakan proyek tersebut dari awal hingga akhir nanti.

Sobat properti, kata kunci dari artikel ini adalah bagaimana anda mencari dan mendapatkan peluang. Silahkan berburu lahan, lalu mempraktekkan jurus negosiasi dengan panduan diatas. Sebenarnya kalau anda pernah mengikuti workshop KETEMU JIN PROPERTI, skill negoisasi anda bakal lebih lengkap karena anda akan dibekali dengan jurus-jurus sakti (jurus bedah rumah, jurus taichi master, jurus 123) dari Jin Properti. Cari di blog ini, jurus-jurus tersebut juga saya tulis. Tapi mungkin lebih meresap di benak anda jika langsung melihat simulasinya.

Pokoknya jangan pernah patah semangat dalam berburu lahan. Hunting dan huntinglah terus. Rasionya adalah 1:50. Anda survei lahan 50x, negosiasi 50x, dan mungkin hanya 1 yang berjodoh. Jika baru negoisasi 5x sudah anggap jurus ini hanya pepesan kosong, ya pertanyakan saja mentalitas serta keseriusan anda menjadi pengusaha properti.

Oke???? Tetap semangat !!! 

Label

Action Yuk anak Android Android Klinik Apk and Software Artikel Bisnis Online Berburu Lahan berita Bisnis Forex Trading Business Online Tips Bussines Cara Sukses Bisnis Online Cari Lahan - Skenario Legal Carilah Mentor Contoh Model Baju Muslim Terbaru 2016 Deklarasikan Profesi Anda Differensiasi dan Benefit Dunia Kesenian Fashion gigi GudangmuDroid | Free Download Game Android INFORMASI SEPUTAR GURU Inspiratif Internet Marketing Tips Jaringan Listrik Di Perumahan JEPARA Kampoeng Pelangi kehamilan Kepuasan Pelanggan Kesehatan Keuangan - Menghitung Kebutuhan Modal Keuangan - Modal Kerja Kiat Sukses Bisnis Online Konsep kerjasama MPK dan (MPT + MPM) KPR - Apraisal dan Taksasi Kuliner kulit-kecantikan lain-lain makanan sehat Manajemen Resiko Marketing - Budgeting Marketing - Cost Leadership Marketing - Fokus Menciptakan Benefit Marketing - Harga Jual Marketing - Keunggulan Kompetitif Marketing - Merekrut Sales Marketing - Open House Marketing - Pembelian Kolektif Marketing - Personal Selling Marketing - Positioning Marketing - Produk Inovatif Marketing - Promosi via FB Marketing - Segmen Target Marketing - Teknik Promosi Marketing - Teknik Supporting Megurus Perijinan Membuka Toko Online Mencari Investor (Mitra Pemilik Modal) Mencari Peluang Mencari Rekanan Kontraktor Mengurus Perijinan Menunda Bayar Tanah Meringankan Cashflow Metode Quick Count Mitra Pemilik Tanah Motivasi Negoisasi Tanah - Profit Sharing obat-penyakit Online Shop pajak properti Pemasaran Pendidikan Pengurangan Laba Perencanaan Bangunan Perijinan - Pemecahan Sertipikat Perijinan Perumahan Perjanjian Dengan Investor Perjanjian Dengan Pemilik Tanah pria Produk Inovatif Promosi Advetorial Promosi Kreatif Promosi Sopping Power Properti review Ruang Marketing Rumah Murah Seni Budaya SEO Skenario Legal Social Cost Strategi DP Ringan Strategi Menyehatkan Cashflow Strategi Negoisasi Soal Aset Strategi Pemasaran - Jari Lentik Strategi Pemasaran Properti Teknik - Sub Kontraktor atau Swakelola Teknik Membuat Penawaran Lahan Teknik Mencari Lahan Teknik Mencari Pemodal Teknologi Teknologi Terbaru 2016 Teknologi Terbaru 2017 Teknologi Terbaru 2018 Teknologi Terbaru 2019 tips Tips Blogging Tips SEO Tips Sukses Bisnis Online Toko Online wanita